Mau buat Web? Silahkan Cek Nama Domain

Check Domain Name ?

 

Toko Online Amazon.com

amazon link

 

Iklan-iklan


Masukkan Code ini K1-C57482-4
untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com

Polling

   

Translator
Motivator Indonesia
The Other Links
Page Rank


 

Locations of visitors to this page

 

Chat with Admin
Welcome
image

admin@bloggersemarang.com

0898-98-59-0-59

Tukeran Link Yuk!

Blogger Semarang!

Chat With Us




ShoutMix chat widget

Facebook
Sponsor

Kontes SEO indositehost.com

 

Jika Anda, Seorang :

Pelajar

Karyawan

Mahasiswa

Pengusaha

Investor

Ingin Penghasilan tambahan?

call : 08989859059

Silahkan Klik Disini

Pasang Iklan Disini

Paket IklanNew

Selamanya New

Hanya 220 Ribu,

Produk Anda Akan di Iklankan Selamanya

( Bonus URL pilihan Anda )

Tersebar  ke lebih dari

5000  Website, Full Trafic

 

Search Engine Friendly

BONUS WEBSITE

( bagi yang beriklan paket 1 tahun )

Kirim materi Iklan ke:

admin@bloggersemarang.com

SMS Konfirmasi :

08989859059


UNTUK MENDAPATKAN WEBSITE DENGAN HARGA MURAH Rp.350.000 dan mendapatkan BONUS JUTAAN/MINGGU,- ANDA BISA MENGHUBUNGI NOMER HP : 0898-98-59-059, atau CUKUP KLIK LINK DI BAWAH INI

Klik Disini

Peta Pariwisata Kota Semarang

Bagi Anda yang ingin berkunjung ke kota Semarang atau hanya sekedar ingin mengenal kota loenpia ini. Disini ada peta yang bisa menjadi panduan anda untuk jalan-jalan di Semarang. Silahkan donwload dengan cara mengklik gambar peta ini. Type file *rar.



Dilarang Membuang Sampah, Kecuali Monyet!

Alkisah, di kampung tempat tinggal si Kabayan terdapatlah sebidang tanah kosong di pojokan jalan. Seperti kebiasaan orang kampung pada umumnya, tanah kosong tersebut menjadi tempat penampungan sementara atau pun juga akhir sampah dari rumah-rumah warga di situ.

Pak Dadang pemilik tanah kosong tersebut merasa gemas dan kesal melihat kebiasaan orang-orang di kampungnya yang sering membuang sampah di tanahnya. Jika dia berjaga-jaga di tanah tersebut untuk melihat siapa saja yang suka membuang sampah di sana, tidak ada seorangpun yang terlihat datang. Padahal, keesokan harinya sampah baru terlihat menumpuk.

Untuk memberitahu bahwa tanahnya bukanlah tempat penampungan sampah, dipasanglah oleh Pak Dadang papan bertuliskan besar-besar “DILARANG KERAS MEMBUANG SAMPAH DI SINI ” di lokasi tersebut. Namun, setelah beberapa waktu, sepertinya tulisan itu tidak ada artinya. Tetap saja sampah bertambah. Apakah warga kampung tidak bisa membaca tulisan larangan itu, sepertinya tidak mungkin. Pak Dadang tahu persis bahwa penduduk kampungnya sudah bebas dari buta huruf.
“Atau mungkin mereka merasa tidak suka terhadap kesuksesanku, dengan cara membuang sampah ke tanahku?”, Pak Dadang merasa penasaran.

Saking kesalnya, tulisan pada papan tersebut ditambahnya. Menjadi “DILARANG KERAS MEMBUANG SAMPAH DI SINI, KECUALI MONYET! ” Dengan harapan harga diri orang yang mau membuang sampah di situ tersinggung, sehingga tidak lagi membuang sampah di sana.
“Masak sih orang nggak kesentil dengan tulisan ini?!” pikir Pak Dadang sambil tersenyum-senyum menang.

Besok paginya, Si Kabayan yang merupakan salah satu warga kampung yang rutin membuang sampah di tanah kosong itu, menjadi orang pertama yang datang untuk membuang sampah. Begitu dia membaca tulisan pada papan yang sudah ada tambahannya, dia tertegun sejenak. “Sialan,..masak sayah dibilang monyet. Sayah kan orang!” Tersinggung juga rupanya hati si Kabayan membaca tulisan itu, dan dia pergi dari situ tidak jadi membuang sampah. Berikutnya orang-orang kampung yang lain pun mengikuti si Kabayan, tidak mau lagi membuang sampah di tanah Pak Dadang, karena merasa tersinggung dikatakan monyet.

Selama seminggu Pak Dadang merasa senang, karena tidak ada sampah baru yang terlihat di tanahnya. Namun hanya dalam sembilan hari saja kegembiraannya, karena di hari kesepuluh dia mendengar kabar dari pembantunya bahwa dalam tiga hari terakhir tanahnya sudah ditambahi sampah baru.
“Kurang ajarrr…! Kok, orang-orang itu masih membuang sampah di tanahku. Apa mereka sudah meras menjadi monyet beneran ya?!”, penasaran dia dibuatnya terhadap perubahan sikap orang-orang kampung yang sudah kembali membuang sampah di tanah kosong miliknya.

Pak Dadang mencari tahu, dan dia dapatkan. Dari kabar orang-orang, katanya, setiap pagi, bolak-balik seekor monyet datang ke tanah kosong itu, membawa sekeranjang sampah dan membuangnya di situ.
“Oaalah…pinter amat sih orang-orang itu! Pantesan mereka tidak tersinggung. Wong monyet yang buang sampah di sana!”, Pak Dadang bertambah kesal karena akalnya telah terkalahkan.

Rupanya, selama seminggu orang-orang tidak membuang sampah di sana, si Kabayan telah melatih seekor monyet untuk bisa membawa dari rumah dan membuang sampah di tempat itu. Setelah satu minggu berlalu, si Kabayan tiap pagi tinggal menyuruh monyetnya untuk membuang sampah di sana. Dan, tetangga-tetangganya ikut-ikutan dengan menyewa monyetnya untuk membuang sampah di tanah pojokan jalan itu.

Pak Dadang tahu bahwa monyet yang sering disuruh orang-orang untuk membuang sampah di tanahnya itu adalah milik si Kabayan. Dengan penuh kegemasan dan kegeraman, dia pun memodifikasi lagi tulisan pada papan itu “DILARANG KERAS MEMBUANG SAMPAH DI SINI, KECUALI MONYET! MANUSIA. YANG MENYURUHNYA MONYET!

Hari-hari berikutnya, orang-orang membuang sampah seperti biasa di tanah milik Pak Dadang itu, termasuk si Kabayan.

(Cerita ini saya tulis kembali, bersumber dari cerita di majalah Kuncung sewaktu saya duduk di kelas 5 SD. Majalahnya sendiri entah sudah ada di mana!)

Salam,
http://ceppi-prihadi.blogspot.com

Mon, 7 Jun 2010 @15:15
Tags: cerita


Write Comment

Name

E-mail (not published)

URL

Comment

Copyright © 2018 admin [bloggersemarang.com] · All Rights Reserved